^◕‿◕^ Fauziah Mahir ^◕‿◕^: Evaluasi Penelitian Tindakan Kelas

Entry About Shout Friends Follow D'Board


  • Hi... Welcome to my blog. Enjoy it !

Own This Site

Contact Me
13.47 | 0 Cloud(s)
Evaluasi Penelitian Tindakan Kelas


TUGAS KELOMPOK
MATA KULIAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS 
(EVALUASI HASIL TINDAKAN)



Dosen Pengampu Mata Kuliah
I Nyoman Karma

Disusun oleh :
1.Fauziah M                   (E1E 213 056)
2.Fikratul Khaer           (E1E 213 056)
3.Jianti Fitriani              (E1E 213 056)
4.Helmi Rosdiana Eta   (E1E 213 068)
5.Huswatun Hasanah    (E1E 213 074)



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI  MATARAM

OKTOBER 2015







Kata Pengantar

Dengan segala kerendahan hati, penulis panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpah dan mencurahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah  Penelitian Pendidikan “ Evaluasi Hasil Tindakan “.

            Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah  Penelitian Pendidikan dan sumber ilmu tambahan untuk pembaca agar lebih memahami mengenai evaluasi hasil tindakan.
           
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini dan juga kepada dosen mata kuliah  belajar dan pembelajaran bapak I Nyoman Karma yang telah membimbing penulis. Penulis menyadari bahwasanya dalam penulisan laporan ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik maupun saran dari pembaca yang bersifat membangun.



Mataram, 18 Oktober 2015


Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

1.                  Latar Belakang
Dalam penelitian pendidikan kelas, evaluasi mempunyai arti yang berbeda  antara guru satu dengan guru yang lainnya, tergantung latarbelakang keahlia dan bidang ilmu yang digelutinya. Menurut Cross (19973:5), evaluasi merupakan proses ang menentukan kondisi di mana suatu tujuan telah dapat dicapai. Defifnisi lain, menurut Good (1973) evaluation is the process of ascertaining or judgning value or amount of something by use of a standard of appraisal  (evaluasi adaalah suatu proses memastikan atau untuk menentukan nilai sesuatu dengan menggunakan penilaian baku). Sedangkan menurut buku panduan dari Direktorat Ketenagaan Pendidikan Nasional Jakarta, evaluasi adalah proses penilaian tentang kepantasan atau kemanfaatan dari suatu proses penelitian.
Evaluasi selalu mengandung proses dan objek yang dievaluasi. Proses evaluasi harus bisa mengakomodasi informasi yang diperlukan. Sedangkan objek atau subjek perlu memiliki indicator yang jelas dan dapat dicapai. Karena tidak semua perilaku dapat dinyatakan dengan alat evaluasi yang sama, maka evaluasi menjadi salah satu hal yang sulit, menatang, dan perlu disadari oleh para guru peneliti kelas. Beberapa tingkah laku yang dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu pengetahuan intelektual (cognitive), keterampilan (skills) yang menghasilkan tindakan, dan bentuk lain values dan attutudes atau yang dikategrikan ke dalam affective domain.
Dari beberapa batasan tersebut, evaluasi dalam penelitian tindakan kelas tidak lain merupakan usaha sistematis  yang dilakukan oleh para peneliti, guna menentukan apakah tujuan penelitian telah dapat dicapai atau belum. Mengingat evaluasi dalam penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang dilakukan di tengah atau menjelang akhir implementasi penelitian, maka informasi yang berupa ketersediaan bahan laboratrium, peneliti sudah terlibat dalam setiap langkah penelitian atau hambatan yang mungkin menggagalkan penelitian tindakan kelas. Evaluasi dalam hal ini juga merupakan bagian dari usaha penjaminan mutu, yang mencakup proses dan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh para guru-peneliti.
Oleh karena itu, tim evaluasi juga perlu membawa pedoman penelitian sebagai dasar diskusi atau berinteraksi dengan para guru-peneliti. Dengan melakukan suatu evaluasi berarti sangat berhati-hati karena ingin mengetahui apakah langkah-langkah yang telah direncanakan atau dilakukan sudah berjalan dengan baik dan hasilnya sesuai yang diharapkan. Jika belum berhasil, maka harus mengetahui bagian mana yang belum sesuai dan apa yang menyebabkan hal tersebut.
2.                  Rumusan Masalah
A.    Apa saja fungsi dari evaluasi ?
B.     Apa sasaran dan kriteria evaluasi ?
C.     Apa saja metode, teknik dan alat evaluasi ?
D.    Siapa saja yang termasuk dalam pelaku evaluasi ?
E.     Bagaimana perencanaan evaluasi ?
F.      Seperti apa pemanfaatan hasil evaluasi ?
3.                  Tujuan
A.    Untuk mengetahui fungsi dari evaluasi
B.     Untuk mengatahui apa sasaran dan kriteria evaluasi
C.     Untuk mengetahui metode, teknik dan alat evaluasi
D.    Untuk mengetahui pelaku evaluasi 
E.     Untuk mengetahui  perencanaan evaluasi
F.      Untuk mengetahui  pemanfaatan hasil evaluasi



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Fungsi Evaluasi
Menurut Arifin, (2011:35) Evaluasi adalah alat untuk mengukur sejauh mana keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadapa peserta didik dan sejauh apakah perunahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. Dalam Evaluasi PTK, kita dapat gunakan untuk menilai keberhasilan atau dapat mengetahui sejauh mana hasilnya terhadap hal-hal yang telah direncanakan atau dilakukan dalam PTK . Dengan melakukan suatu evaluasi berarti sangat berhati-hati karena ingin mengetahui apakah langkah-langkah yang telah direncanakan atau dilakukan sudah berjalan dengan baik dan hasilnya sesuai yang diharapkan. Jika belum berhasil, maka harus mengetahui bagian mana yang belum sesuai dan apa yang menyebabkan hal tersebut. Dalam tahap evaluasi berarti peneliti melakukan hal-hal yang dapat memberikan gambaran tentang hasil yang telah ditelitinya. Apakah hasilnya sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
Adapun Fungsi pokok dari evaluasi tindakan adalah menentukan tingkat keberhasilan dan pencapaian tujuan tindakan. Evaluasi juga berfungsi untuk mengetahui, jika ada hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan, baik yang positif maupun yang negatif. Contoh suatu tindakan bertujuan meningkatkan prestasi belajar IPA melalui belajar kelompok atau belajar kooperatif. Evaluasi dari tindakan tersebut adalah mengetahui seberapa besar terjadinya peningkatan hasil belajar IPA setelah diterapkan belajar kelompok. Akan tetapi, bukan tidak mungkin bahwa yang diperoleh bukan saja peningkatan prestasi belajar, tetapi juga sikap lebih senang belajar IPA, dan konsep diri yang lebih baik dalam pelajaran IPA.

2.      Sasaran Dan Kriteria Evaluasi
Sasaran dari evaluasi adalah untuk menemukan informasi tentang bukti konkret adanya perbaikan dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Bukti konkret ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bukti secara negative dan positif.  Bukti negative berisi informasi tentang hasil temuan yang merupakan bukti nyata yang dapat berupa hambatan atau kesulitan yang muncul, sehingga menghambat pelaksanaan penelitian. Bukti positif merupkan kegiatan atau factor pendorong yang muncul selama proses penelitian, sehingga mendukung tercapainya tujuan penelitian.
Peningkatan dapat mengenai proses belajar-mengajar, dan dapat mengenai hasil belajar. Perubahan yang terjadi dapat dialami oleh individu, dapat pula dialami oleh kelas atau kelompok murid. Dalam mata pelajaran tertentu, setiap siswa dapat mengalami peningkatan, misalnya rata-rata nilai tes hasil belajar, bertambah baiknya iklim kelas. Kemampuan kerja kelompok menjadi lebih baik, yang pada gilirannya juga akan memacu motivasi belajar. Kondisi demikian tidak lepas dari kemampuan profesional guru.
Perbedaan mendasar antara pemantauan dan evaluasi adalah pemantauan memusatkan perhatian pada proses pelaksanaaan tindakan, sedangkan evaluasi memusatkan perhatian pada hasil yang dicapai setelah satu tahapan tindakan dipandang memadai.
Setiap evaluasi senantiasa membutuhkan kriteria sebagai acuan untuk mempertimbangkan dan memberikan makna terhadap apa saja yang dicapai setelah pelaksanaan tindakan. Seorang evaluator penelitian tindakan kelas sebaiknya dalam melakukan evaluasi pelaksanaan penelitian tindakan, memiliki indicator kriteria yang baik. Kriteria indicator yang baik mencakup jelas sumbernya dan jelas target atau sasarannya, sehingga jika dikomunikasikan dengan para guru-peneliti, mereka dapat menerima dan kemudian bekerjasama dalam melakukan kegiatan perbaikan.
Kriteria dapat bersifat normatif atau relatif dan dapat pula kriteria absolut.  Kriteria normatif dapat berasal dari dalam dan luar. Kriteria dalam adalah keadaan sebelum tindakan. Apabila ternyata keadaan setelah tindakan lebih baik, dapat dikatakan bahwa tindakan telah berhasil. Akan tetapi, kalau tidak ada perbedaaan atau bahkan lebih jelek, tindakan dianggap belum berhasil atau gagal. Kriteria luar adalah keadaan kelompok lain yang tidak dikenai tindakan sehingga dipertanggungjawabkan bahwa kalau pada akhirnya lebih baik, hal tersebut dikarenakan pengaruh tindakan. Kriteria absolut berasal dari sumber ideal, misalnya bersumber pada teori yang relevan dengan hasil tindakan, ideologi, peraturan, dan kebijakan.
Dengan demikian, hasil tindakan diukur dan dibandingkan dengan kriteria absolut tersebut. Evaluasi  dituntut mampu menilai apakah dengan dilaksanakannya tindakan dapat semakin mendekati kriteria absolut tersebut. Dalam evaluasi, kriteria berfungsi sebagai pembanding untuk menentukan tingkat keberhasilan tindakan. Tingkat keberhasilan ini ditentukan berdasarkan pertimbangan yang matang oleh guru atau peneliti. Agar pertimbangan tersebut bisa dilakukan dengan baik, disamping perlu ditunjang dengan data yang cukup, peneliti dapat meminta pertimbangan dari teman sejawat, kepala sekolah, penilik sekolah dan jika perlu orang tua siswa dan masyarakat. Tentu saja, pertimbangan tambahan tersebut sangat bergantung pada permasalahan. Kalau permasalahannya tidak menyangkut orang tua siswa, tidak perlu pertimbangan dari orang tua siswa.
3.      Metode, Teknik dan Alat Evaluasi
Jika evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan informasi, maka teknik adalah metode yang digunakan agar tujuan evaluasi yaitu menggali informasi tentang peserta didik dapat tercapai. Secara garis besar ada dua kelompok teknik evaluasi dapat digunakan oleh seorang guru dalam usahanya mencari informasi yang diperlukan. Kedua kelompok tersebut yaitu tes dan non tes. Pertama teknik evaluasi menggunakan cara tes, yang didalamnya berupa satu set atau lebih item pertanyaan atau pertanyaan yang relevan dengan tujuan tes digunakan oleh seorang guru. Dari teknik evaluasi menggunakan tes ini, dilihat dari aspek peranannya suatu tes dapat dibedakan menjadi, sebagai berikut :
a.          Tes Diagnostik
            Tes ini adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga dengan mengetahui kelemahan siswa tersebut, maka kita bisa memperlakukan siswa tersebut dengan tepat. Materi tes yang ditanya dalam tes diagnostik biasanya mengenai hal-hal  tertentu yang juga merupakan pengalaman sulit bagi siswa. Tes ini dapat dilaksanakan dengan cara lisan, tulisan, atau dengan mengkolaborasi kedua cara tes. Dalam catatan, tes ini hanya untuk memeriksa, jika hasil pemeriksaan tersebut membuktikan kelemahan daya serap siswa terhadap suatu pembelajaran. Maka akan dilakukan pembimbingan secara khusus kepadanya.
b.         Tes Formatif
            Tes ini merupakan tes hasil belajar yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai pelajaran setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu  yang telah ditentukan, tes ini dilaksanakan biasanya di tengah-tengah perjalanan program pembelajaran. Tes ini juga disebut dengan “ujian harian”. Materi tes ini adalah materi yang telah di sampaikan kepada siswa sebelumnya. Soalnya bisa dalam tingkat mudah maupun sulit. Dalam tes ini, jika siswa telah menguasai materi yang telah diajarkan dengan baik, maka guru akan menyampaikan materi selanjutnya. Dan apabila materi belum dapat dikuasai secara menyeluruh, maka guru harus mengajarkan bagian materi yang belum dipahami.
c.          Tes Sumatif
            Tes ini tidak asing bagi siswa, karena tes ini adalah tes akhir dari program pembelajaran. Tes ini juga bisa disebut EBTA, tes akhir semestes, UAN. Tes ini dilaksanakan pada akhir program pembelajaran. Seperti setiap akhir semester, akhir tahun. Materinya yang dites adalah materi yang telah diajarkan selama satu semester. Dengan demikian materi ini lebih banyak dari materi  yang ada pada tes formatif. Tes ini biasanya dilakukan dengan cara tulisan, dan biasanya siswa memperoleh soal yang sama satu sama  lain. Tes ini memiliki tingkat tes yang sukar atau lebih berat dari tes formatif. Dengan ada tes ini maka kita bisa menentukan peringkat atau rangking siswa selama program  pembelajaran, dan juga tes ini menentukan kelayakan seorang siswa untuk mengikuti program pembelajaran selanjutnya.

Kedua teknik evaluasi melalui non tes. Tes ini tidak menggunakan item pertanyaan atau pertanyaan seperti disebutkan diatas, tetapi tes ini menggunakan metode lain untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan. Yang termasuk teknik evaluasi non tes diantaranya sebagai berikut.
a.          Rating yaitu alat tes yang memberikan nilai angka untuk semacam pertimbangan (judgment) suatu objek yang dievaluasi atas dasar persepsi atau pilihan evaluand.
b.         Questionaires atau angket merupakan teknik evaluasi yang menggunakan angket untuk dijawab oleh responden sesuai dengan pilihan responden.
c.          Wawancara, teknik evaluasi yang menekankan adanya pertemuan secara langsung antara evaluator dengan yang dievaluasi
d.         Observasi, teknik evaluasi yang menekankan pada penggunaan indera penglihatan. Agar hasilnya dapat maksimal pada umumnya seorang evaluator menggunakan cek list, yakni alat evaluasi yang banyak digunakan sebagai pelengkap teknik observasi.
e.          Dokumentasi merupakan teknik evaluasi yang menekankan pada aspek data tertulis atau dokumen yang berkaitan erat dengan informasi tentang siswa. Data dokumentasi ini termasuk riwayat hidup peserta didik.
Mengingat banyaknya teknik evaluasi yang mungkin dapat diakses oleh seorang guru atau evaluator, maka seorang guru perlu mempertimbangkan beberapa butir penting berikut:
a.          Pemilihan teknik evaluasi yang hendak digunakan oleh seorang guru sebaiknya tepat dan sesuai dengan tujuan pembelajaran peserta didik.
b.         Pemilihan teknik evaluasi, sebaiknya memberikan kemungkinan melakukan evaluasi diri yangpada prinsipnya menekankan dua hal penting yaitu (a) para siswa dapat berpartisipasi dalam melakukan skoring dan tes, dan (b) para siswa dapat berpartisipasi dalam menentukan nilai atau grade.
c.          Variasi teknik yang diterapkan untuk peserta didik sebaiknya dipertimbangkan secara teliti oleh guru, sebelum teknik tersebut diaplikasikan pada peserta didik.
Setiap evaluasi selalu didahului dengan aktivitas pengumpulan data, baik data kualitatif atau data kuantitatif.. Adapun tentang metode dan alatnya terdapat berbagai kemungkinan bergantung pada hal-hal yang dapat diamati dari keberhasilan yang dicapai.
Jenis data
Metode
Sumber data
  1. Hasil belajar masing2 siswa


  1. Kognitif
Tes
Siswa
b. Afektif
Skala sikap
Siswa
c. Psikomotorik
Observasi
Siswa
d. Konsep diri
Angket
Siswa
2.      Kelas


a. Iklim kelas
Observasi
Kelas
b. Kehadiran
Analisis dokumen
Dokumen
c. Proses belajar
Observasi
Kelas
3.      Guru


a. Kemampuan mengajar
Observasi
Guru
b. Kemampuan manajemen kelas
Observasi
Guru
c. Penguasaan materi pelajaran
Observasi
Guru
Tabel Metode Evaluasi
 Alat pengumpulan data tersebut beragam, ada yang sederhana dan ada yang tidak sederhana. Penggunaan alat-alat tersebut disesuaikan dengan sifat datanya. Alat evaluasi yang umumnya dipakai oleh evaluator antara lain adalah tes hasil belajar,tes kemampuan, inventory atau skala sikap, pedoman observasi, daftar cek, skala peringkat terstruktur, panduan wawancara bebas/terbuka, panduan wawancara terstruktur, pedoman analisis dokumen. Penentuan alat evaluasi hendaknya sesuai dengan tujuan dan pertanyaan evaluasi yang dikemukakan sebelumnya. Sebagai contoh, jika akan mengevaluasi kemajuan prestasi siswa dalam beberapa mata pelajaran, hendaknya menggunakan tes tertulis sebagai alat evaluasi. Contoh lain jika akan mengevaluasi minat dan bakat siswa, bisa menggunakan tes lisan, wawancara, atau pengukuran sikap.
Dalam penelitian tindakan kelas, alat evaluasi tidak perlu diartikan sebagai alat yang rumit, sudah baku dan cenderung menimbulkan kesan sulit. Alat pengumpulan data evaluasi bisa dibuat secara sederhana, baik penyusunannya maupun cara penggunaannya, dan yang penting adalah dapat menghasilkan data yang jelas, bermakna, dapat dimanfaatkan dengan mudah. Guru dapat mempersiapkan dan memakainya sendiri. Bagi guru yang kurang berpengalaman dalam pengumpulan data evaluasi, dia dapat meminta bantuan kepada peneliti yang menjadi mitra kerjanya dalam penelitian tindakan kelas.


Ø  Contoh menggunakan teknik nontes.
Contoh Lembar Pengamatan Tentang Proses Pembelajaran dalam PTK
Hari/tanggal      : … … … …
Tempat/lokasi   : … … … …
Waktu               : … … … …
No.
Objek yang diamati
Skor
Keterangan
1
2
3
4
1.
Perhatian siswa terhadap pembelajaran
a.    Siswa focus perhatiannya terhadap pembelajaran
b.   Melaksanakan tugas dengan segera
c.    Gerak-geriknya serius





2.
Minat siswa terhadap pelajaran
a.       Siswa tidak berhenti bekerja
b.      Wajah siswa berseri-seri
c.       Terlihat asyik mengerjakan tugas






 Aktivitas siswa
a.         Jika tidak jelas mau bertanya
b.        Segera menjawab jika ditanya
c.         Mencatat hal-hal penting





4.                   
Semangat belajar
a.         Masuk ruangan dengan segera
b.        Seperti lupa waktu, pelajaran habis masih terus bekerja
c.         Kelihatan sibuk





5.                   
Suasana belajar riuh menyenangkan
a.         Kelas terdengar ramai, sahut-menyahut suara siswa
b.        Hilir-mudik tetapi tertuju untuk pembelajaran
c.         Setiap menyelesaikan tugas siswa kelihatan gembira





6.                   
Keadaan pembelajaran tertib
a.         Kalau mau bertanya mengangkat tangan
b.        Masing-masing siswa asyik dengan tugasnya
c.         Ketua kelompok menegur kalau ada siswa yang lalai





7.                   
Pelaksanaan pembelajaran lancar
a.         Penggalan setiap indikator sesuai target waktu
b.        Tidak terlihat ada kegiatan terhenti
c.         Pelajaran selesai pada waktu yang ditentukan.






Ø  Rumus untuk menentukan nilai dari tabel diatas:
N =  SM   x 100
       SMI

Ø  Keterangan:
N         : Nilai
SM      : Skor mentah. Skor yang diperoleh dari hasil pengamatan peneliti/guru.
SMI     : Skor maksimum ideal. (Skor maksimum untuk tabel diatas adalah  7 x 3 x 4 = 84)

Ø  Pedoman penilaian:
84 s/d 100 = sangat baik
67 s/d 83 = baik
33 s/d 66 = cukup baik
16 s/d 32 = kurang baik
0              = tidak baik
Ø  Jika perolehan skor dari hasil pengamatan berdasarkan tabel diatas sebagai berikut:
ü  5 butir instrumen soal mendapat skor 4
ü  6 butir instrumen soal mendapat skor  3
ü  4 butir instrumen soal mendapat skor 2
ü  6 butir instrumen soal mendapat skor 1
Ø  SM = (5 x 4) + (6 x 3) + (4 x 2) + (6 x 1) = 52
Ø  Nilai dari lembar pengamatan tentang proses pembelajaran:
Ø  N =   52       x 100
        84
Ø  N = 61,9 atau 62. Jadi, berdasarkan pedoman penilaian diatas, nilai pada hasil pengamatan tersebut tergolong dalam kriteria cukup baik.

Contoh dengan teknik tes
Kisi-kisi soal sebagai berikut:
Nomor butir soal
Bentuk tes/model soal
Jumlah butir soal
Bobot jawaban benar
Skor
1-15
Tes obyektif bentuk multiple choise
15
1
15
16-25
Tes obyektif bentuk jawaban singkat
10
2
20
26-30
Tes non obyektif bentuk esay
5
10
50
Skor maksimum ideal
85

Ø  Rumus :
N =  SM   x 100
       SMI

Ø  Keterangan:
N         : Nilai
SM      : Skor mentah. Skor yang diperoleh dari hasil pengamatan peneliti/guru.
SMI     : Skor maksimum ideal. (Skor maksimum untuk tabel diatas adalah 85)

Ø  Pedoman penilaian:
84 s/d 100 = sangat baik
67 s/d 83 = baik
33 s/d 66 = cukup baik
16 s/d 32 = kurang baik
0              = tidak baik
Ø  Jika perolehan skor dari hasil pengamatan berdasarkan tabel diatas sebagai berikut:
ü  12 butir instrumen soal mendapat skor 1
ü  7 butir instrumen soal mendapat skor  2
ü  3 butir instrumen soal mendapat skor 10
Ø  SM = (12 x 1) + (7 x 3) + (3 x 10) = 63
Ø  Nilai dari lembar pengamatan tentang proses pembelajaran:
Ø  N =  63       x 100
               85
Ø  N = 74,2. Jadi, berdasarkan pedoman penilaian diatas, nilai pada tes hasil belajar siswa tersebut tergolong dalam kriteria baik.

2.      Pelaku evaluasi
Subjek atau pelaku evaluasi pendidikan ialah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi dalam bidang pendidikan. Pelaku evaluasi dalam penelitian tindakan kelas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tim peneliti dan tim pemantau yang ditunjuk. Untuk penelitian tindakan kelas itu sendiri, tim peneliti merupakan tim yang paling berkompeten dalam pelaksanaan evaluasi, karena mereka orang yang paling bertanggungjawab  dan mengetahui secara pasti rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan. Tim evaluasi penelitian tindakan kelas itu sendiri, termasuk guru itu sendiri, peneliti sebagai mitra kolaborasi, kepala sekolah dan pemilik sekolah. Untuk penelitian yang didanai oleh lembaga lain atau sponsor, biasanya tim evaluasi adalah tim pemantau yang mendapat wewenang untuk melakukan monitoring dan evaluasi. 
Evaluasi hasil pada penelitian tindakan kelas pada dasarnya bersifat partisipatoris, artinya harus melibatkan pelaku tindakan. Guru diusahakan berperan serta aktif sejak tahap persiapan, penyiapan alat, atau format pengumpulan data, kegiatan pengumpulan data, dan bahkan dalam mengelola dan menggali makna atas semua informasi hasil tindakan.
3.      Perencanaan evaluasi
Evaluasi dalam penelitian tindakan harus disiapkan dengan baik. Evaluasi yang baik tidak harus diartikan sebagai evaluasi yang sulit dan rumit. Guru diharapkan mampu melakukan evaluasi tindakan sambil tetap menunaikan tugas pokoknya sebagai praktisi pendidikan. Perencaan evaluasi secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Perumusan tujuan evaluasi dan rencana pelaksanaan tindakan. Memahami tujuan evaluasi adalah salah satu wawasan paling penting yang harus dimiliki seorang evaluator. Apapun bentuk dan pendekatan evaluasi, penentuan tujuan evaluasi akan selalu berkenaan dengan apa yang diharapkan dari pelaksanaan suatu evaluasi, yaitu output (misalnya; produk pembelajaran, dokumentasi siswa/guru, dsb.) dan outcome (misalnya; efektivitas/efisiensi pembelajaran siswa, perubahan sikap siswa, perubahan kinerja dan sikap guru, perubahan kelembagaan, posisi di dunia pendidikan dan dunia kerja, dsb.). Penetapan calon pengguna atau pemakai hasil evaluasi dan kepentingan penggunaan hasil evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data tentang ada tidaknya perbaikan atau peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran setelah dilaksanakan tindakan.kepentingan evaluasi bisa berupa kepentingan administrative, pembinaan professional guru, pertanggungjawaban pada penyandang dana (jika ada yang mendanai)orang tua siswa ata komite sekolah. Evaluasi dalam penelitian tindakan kelas berorientasi pada kebutuhan untuk membuat keputusan tentang kenerhasilan tindakan yang telah dilakukan.
b.      Penjabaran pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari evaluasi (menyususun kisi-kisi soal). Penyusunan kisi-kisi dimaksudkan agar materi tes yang akan diujikan betul-betul representative terhadap materi pelajaran yang sudah diberikan kepada peserta didik. Jika materi tidak relevan maka akan berakibat tes hasil kurang baik. Kisi-kisi adalah  suatu format yang berisi komponen identitas dan komponen matriks untuk memetakan soal dari berbagai topic/ satuan bahasan yang sesuai dengan kompetensi dasarnya masing-masing. Untuk menyusun kisi-kisi ini sebelumnya guru harus mempelajari silabus mata pelajaran  karena tidak mungin kisi-kisi dibuat tanpa adanya silabus. Guru harus memperhatikan domain dan  jenjang kemampuan yang akan diukur, kemudian guru membuat soal yang sesuai dengan kisi-kisi, menyusun lembar jawaban siswa, membuat kunci jawaban, dan membuat pedoman pengolahan skor. Selanjutnya melaksanakan uji coba.
Kisi-kisi penting dalam perencanaan penilain hasil belajar karena didalamnya terdapat sejumlah idikato yang sebagai acuan dalam mengembangkan instrument (soal) dengan persyaratan :
1)      Representative, yaitu harus betul-betul mewakili isi kurikulum sebgai sampel perilaku yang akan dinilai
2)      Komponen-komponennya harus terurai/terperinci, jelas dan mudah dipahami.
3)      Soalnya dapat dibuat sesuai dengan indicator dan bentuk soal yang diterapkan.
Dalam menyususn kisi-kisi harus mempertimbangkan domain hasil belajar yang akan diukur dengan sistematika.
c.       Penetapan jenis data yang diperlukan evaluasi dan sumber data yang tepat. Pada tahap ini evaluator mengidentifikasi data/informasi sesuai dengan kebutuhan dan variabel yang akan dievaluasi. Jenis data secara umum adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Di sini evaluator memilih dan/atau mengembangkan metode pengumpulan data (instrumen), mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang tepat (dari siapa, oleh siapa) dan cara mengumpulkannya, organisasi hasil informasi evaluasi, serta analisis dan interpretasi hasil informasi evaluasi.
 Setelah itu kita menentukan sampel. Sampel digunakan bila kita akan mengevaluasi sebagian dari populasi yang menjadi subjek atau objek evaluasi, dengan memperhatikan sifatnya yang homogenitas dan heterogenitas. Evaluator juga menentukan teknik pengambilan sampel (sampling) yang cocok diambil. Sebagai contoh, kita bisa menentukan desain sampling yang akan diambil dari sejumlah populasi dengan menggunakan teknik-teknik seperti random sampling, stratified sampling, proportional sampling, dengan memperhatikan pendekatan seperti judgment sampling (ditarik berdasarkan pertimbangan para ahli) dan probability sampling (ditarik berdasarkan probabilitas) serta haphazard sampling (berdasarkan aksesibilitas sampel yang dapat diambil).  Setelah menentukan sampel, kita akan menentukan model evaluasi. Model evaluasi sangat berkaitan dengan berbagai pendekatan evaluasi. Berikut ini adalah pendekatan-pendekatan utama dalam evaluasi:
1)      Pendekatan yang berorientasi pada tujuan, yang fokusnya adalah menentukan tujuan dan sasaran dan pencapainnya.
2)      Pendekatan yang berorientasi pada manajemen, yang fokus utamanya adalah pada identifikasi dan pemenuhan kebutuhan informasi bagi para pembuat keputusan manajerial.
3)      Pendekatan yang berorientasi pada klien, yaitu yang masalah utamanya adalah mengembangkan informasi evaluasi dalam ―produk-produk‖ pendidikan, untuk digunakan oleh pengguna pendidikan dalam memilih kurikulum (misalnya kurikulum berbasis kompetensi), produk-produk pembelajaran, dan sebagainya. Pendekatan yang berorientasi pada para ahli, yang sangat bergantung pada penerapan langsung dari para profesional dalam menilai kualitas pendidikan. Pendekatan yang berorientasi pada lawan atau pesaing, yaitu sebagai kontra atau penyeimbang dari pendekatan yang berorientasi pada para ahli pada umumnya (pro dan kontra).
4)      Pendekatan naturalistik yang berorientasi pada partisipan, yaitu bahwa keterlibatan partisipan merupakan penentu utama dalam nilai-nilai, kriteria, kebutuhan, dan sifat data untuk evaluasi.
5)      Peracangan kegiatan pengumpulan data. Untuk mencegah temuan yang menyesatkan mengenai ukuran keberhasilan, perlu dirancang penentuan saat yang tepat (timing) pengumpulan data evaluasi, penentuan, dan perancangan penggunaan data pembanding. Data pembanding dapat berupa kondisi sebelum dikenakan tindakan.
6)      Penyiapan alat pengumpulan data yang tepat. Alat evaluasi yang umumnya dipakai oleh evaluator antara lain adalah tes, pengukuran sikap, survey dan kuesioner survey, wawancara, pengamatan, sampling, eksperimental dan sebagainya. Penentuan alat evaluasi hendaknya sesuai dengan tujuan dan pertanyaan evaluasi yang dikemukakan sebelumnya. Sebagai contoh, jika akan mengevaluasi kemajuan prestasi siswa dalam beberapa mata pelajaran, hendaknya Anda menggunakan tes tertulis sebagai alat evaluasi. Contoh lain jika akan mengevaluasi minat dan bakat siswa, Anda bisa menggunakan tes lisan, wawancara, atau pengukuran sikap.
7)      Perancangan pengolahan dan analisis data, cara penarikan kesimpulan, dan konsekuensinya bagi perumusan arah tindakan selanjutnya. Setelah semua data kita kumpulkan, baik data itu dari kita langsung yang mengadakan kegiatan evaluasi maupun dari orang lain yang mengevaluasi orang yang kita maksud, data tersebut harus diolah. Mengolah data berarti ingin memberikan nilai dan makna kepada testi mengenai kulaitas hasil pekerjaannya. Misalnya, jika seorang murid mendapat nilai 65, kita belum dapat memberikan keputusan tentang murid itu, apakah yang termasuk cerdas atau kurang apalagi memberikan keputusan   mengenai aspek keseluruhan kepribadian murid. Dalam pengolahan data biasanya sering digunakan analisis statistic, terutama jika bertemu dengan data kuantitaif  yaitu data-data yang berbentuk angka-angka. Mengolah data berarti ingin memberikan  nilai dan makna mengenai kualitas hasil pekerjaan murid-murid.
Jika data hasil evaluasi sudah diolah, langkah selanjutnya adalah menafsirkan data itu, sehingga memberikan makna. Memberikan penafsiran maksudnya adalah untuk membuat pernyataan mengenai hasil pengeolahan data. Penafsiran terhadap suatu hasil evaluasi didasrkan atas kriteria tertentu yang diseut norma. Norma dapat ditetapkan terlebih dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan, tetapi dapat pula dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam melaksanakan evaluasi. Sebaliknya, bila penafsiran data itu tidak berdasarkan kriteria atau norma tertentu hanya berdasrkan pertimbangan pribadi dan kemanusiaan, maka termasuk kesalahan yang besar. Putusan ini tidak objektif dan merugikan semua pihak.
Ada dua jenis penfasiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individu. Penafsiaran kelompok adalah penafsiran yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik kelompok berdasarkan data hasil evaluasi, antara lain prestasi kelompok, rata-rata kelompok, sikap kelompok terhadap guru an materi pelajaran yang diberikan dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamnya adalah sebgai persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok. Sedangkan penafsiran individu adalah penafsiran yang hanya tertuju kepada individu saja. Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau situasi klinis lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk melihat kesiapan anak dalam pertumbuhan dan kemajuan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.


4.      Pemanfaatan hasil evaluasi
Setelah data terkumpul, dianalisis, dan dimaknai, peneliti harus dapat menyimpulkan tingkat keberhasilan dari tindakan yang telah dilakukan. Bagian yang berhasil dan tidak berhasil harus dapat diidentifikasi, serta dicari penjelasannya. Berdasarkan kesimpulan evaluasi tersebut, dirumuskan permasalahan yang masih harus dicari pemecahannya dan dirumuskan rencana tindakan berikutnya yang paling strategis.  Tindakan strategis adalah tindakan yang mampu menimbulkan efek yang luas dari sistem pembelajaran. Hal-hal yang masih merupakan kelemahan perlu ditindaklanjuti dalam rencana tindakan berikutnya. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk melakukan refleksi.



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Evaluasi adalah alat untuk mengukur sejauh mana keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam Evaluasi PTK, kita dapat gunakan untuk menilai keberhasilan atau dapat mengetahui sejauh mana hasilnya terhadap hal-hal yang telah direncanakan atau dilakukan dalam PTK .
Fungsi evaluasi tindakan adalah menentukan tingkat keberhasilan tindakan sesuai dengan yang diharapkan.
Sasaran evaluasi adalah untuk menemukan bukti-bukti nyata adanya peningkatan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Kriteria evaluasi sebagai acuan untuk mempertimbangkan dan memberikan makna terhadap apa saja yang dicapai setelah pelaksanaan tindakan. Kriteria bersifat normative atau relative. Secara garis besar ada dua kelompok teknik evaluasi dapat digunakan oleh seorang guru dalam usahanya mencari informasi yang diperlukan. Kedua kelompok tersebut yaitu tes dan non tes.
Pelaku evaluasi dalam PTK guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, peneliti dari perguruan tinggi sebagai kolaborasi. Adapun perencanaan evaluasi adalah sebagai berikut : merumuskan tujuan, merumuskan pertanyaan, penetapan jenis data dan sumber data, perancangan kegiatan pengumpulan data, penyiapan alat pengumpul data, perencanaan pengolahan dan analisis data, pemberian makna hasil analisis data, serta cara penarikan kesimpulan.








Daftar Pustaka

Sudaryono.2012.Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta:Garaha Ilmu
Ghony. Djunaidi.2008.Penelitian Tindakan Kelas.Malang:UIN-Malang Press
Mahmud.2011.Metodelogi Penelitian Pendidikan.Bandung:Pustaka Setia



Label:

0 Komentar:


Posting Komentar


Jenis data
Metode
Sumber data
  1. Hasil belajar masing2 siswa


  1. Kognitif
Tes
Siswa
b. Afektif
Skala sikap
Siswa
c. Psikomotorik
Observasi
Siswa
d. Konsep diri
Angket
Siswa
2.      Kelas


a. Iklim kelas
Observasi
Kelas
b. Kehadiran
Analisis dokumen
Dokumen
c. Proses belajar
Observasi
Kelas
3.      Guru


a. Kemampuan mengajar
Observasi
Guru
b. Kemampuan manajemen kelas
Observasi
Guru
c. Penguasaan materi pelajaran
Observasi
Guru
Tabel Metode Evaluasi
 Alat pengumpulan data tersebut beragam, ada yang sederhana dan ada yang tidak sederhana. Penggunaan alat-alat tersebut disesuaikan dengan sifat datanya. Alat evaluasi yang umumnya dipakai oleh evaluator antara lain adalah tes hasil belajar,tes kemampuan, inventory atau skala sikap, pedoman observasi, daftar cek, skala peringkat terstruktur, panduan wawancara bebas/terbuka, panduan wawancara terstruktur, pedoman analisis dokumen. Penentuan alat evaluasi hendaknya sesuai dengan tujuan dan pertanyaan evaluasi yang dikemukakan sebelumnya. Sebagai contoh, jika akan mengevaluasi kemajuan prestasi siswa dalam beberapa mata pelajaran, hendaknya menggunakan tes tertulis sebagai alat evaluasi. Contoh lain jika akan mengevaluasi minat dan bakat siswa, bisa menggunakan tes lisan, wawancara, atau pengukuran sikap.
Dalam penelitian tindakan kelas, alat evaluasi tidak perlu diartikan sebagai alat yang rumit, sudah baku dan cenderung menimbulkan kesan sulit. Alat pengumpulan data evaluasi bisa dibuat secara sederhana, baik penyusunannya maupun cara penggunaannya, dan yang penting adalah dapat menghasilkan data yang jelas, bermakna, dapat dimanfaatkan dengan mudah. Guru dapat mempersiapkan dan memakainya sendiri. Bagi guru yang kurang berpengalaman dalam pengumpulan data evaluasi, dia dapat meminta bantuan kepada peneliti yang menjadi mitra kerjanya dalam penelitian tindakan kelas.


Ø  Contoh menggunakan teknik nontes.
Contoh Lembar Pengamatan Tentang Proses Pembelajaran dalam PTK
Hari/tanggal      : … … … …
Tempat/lokasi   : … … … …
Waktu               : … … … …
No.
Objek yang diamati
Skor
Keterangan
1
2
3
4
1.
Perhatian siswa terhadap pembelajaran
a.    Siswa focus perhatiannya terhadap pembelajaran
b.   Melaksanakan tugas dengan segera
c.    Gerak-geriknya serius





2.
Minat siswa terhadap pelajaran
a.       Siswa tidak berhenti bekerja
b.      Wajah siswa berseri-seri
c.       Terlihat asyik mengerjakan tugas






 Aktivitas siswa
a.         Jika tidak jelas mau bertanya
b.        Segera menjawab jika ditanya
c.         Mencatat hal-hal penting





4.                   
Semangat belajar
a.         Masuk ruangan dengan segera
b.        Seperti lupa waktu, pelajaran habis masih terus bekerja
c.         Kelihatan sibuk





5.                   
Suasana belajar riuh menyenangkan
a.         Kelas terdengar ramai, sahut-menyahut suara siswa
b.        Hilir-mudik tetapi tertuju untuk pembelajaran
c.         Setiap menyelesaikan tugas siswa kelihatan gembira





6.                   
Keadaan pembelajaran tertib
a.         Kalau mau bertanya mengangkat tangan
b.        Masing-masing siswa asyik dengan tugasnya
c.         Ketua kelompok menegur kalau ada siswa yang lalai





7.                   
Pelaksanaan pembelajaran lancar
a.         Penggalan setiap indikator sesuai target waktu
b.        Tidak terlihat ada kegiatan terhenti
c.         Pelajaran selesai pada waktu yang ditentukan.






Ø  Rumus untuk menentukan nilai dari tabel diatas:
N =  SM   x 100
       SMI

Ø  Keterangan:
N         : Nilai
SM      : Skor mentah. Skor yang diperoleh dari hasil pengamatan peneliti/guru.
SMI     : Skor maksimum ideal. (Skor maksimum untuk tabel diatas adalah  7 x 3 x 4 = 84)

Ø  Pedoman penilaian:
84 s/d 100 = sangat baik
67 s/d 83 = baik
33 s/d 66 = cukup baik
16 s/d 32 = kurang baik
0              = tidak baik
Ø  Jika perolehan skor dari hasil pengamatan berdasarkan tabel diatas sebagai berikut:
ü  5 butir instrumen soal mendapat skor 4
ü  6 butir instrumen soal mendapat skor  3
ü  4 butir instrumen soal mendapat skor 2
ü  6 butir instrumen soal mendapat skor 1
Ø  SM = (5 x 4) + (6 x 3) + (4 x 2) + (6 x 1) = 52
Ø  Nilai dari lembar pengamatan tentang proses pembelajaran:
Ø  N =   52       x 100
        84
Ø  N = 61,9 atau 62. Jadi, berdasarkan pedoman penilaian diatas, nilai pada hasil pengamatan tersebut tergolong dalam kriteria cukup baik.

Contoh dengan teknik tes
Kisi-kisi soal sebagai berikut:
Nomor butir soal
Bentuk tes/model soal
Jumlah butir soal
Bobot jawaban benar
Skor
1-15
Tes obyektif bentuk multiple choise
15
1
15
16-25
Tes obyektif bentuk jawaban singkat
10
2
20
26-30
Tes non obyektif bentuk esay
5
10
50
Skor maksimum ideal
85

Ø  Rumus :
N =  SM   x 100
       SMI

Ø  Keterangan:
N         : Nilai
SM      : Skor mentah. Skor yang diperoleh dari hasil pengamatan peneliti/guru.
SMI     : Skor maksimum ideal. (Skor maksimum untuk tabel diatas adalah 85)

Ø  Pedoman penilaian:
84 s/d 100 = sangat baik
67 s/d 83 = baik
33 s/d 66 = cukup baik
16 s/d 32 = kurang baik
0              = tidak baik
Ø  Jika perolehan skor dari hasil pengamatan berdasarkan tabel diatas sebagai berikut:
ü  12 butir instrumen soal mendapat skor 1
ü  7 butir instrumen soal mendapat skor  2
ü  3 butir instrumen soal mendapat skor 10
Ø  SM = (12 x 1) + (7 x 3) + (3 x 10) = 63
Ø  Nilai dari lembar pengamatan tentang proses pembelajaran:
Ø  N =  63       x 100
               85
Ø  N = 74,2. Jadi, berdasarkan pedoman penilaian diatas, nilai pada tes hasil belajar siswa tersebut tergolong dalam kriteria baik.

2.      Pelaku evaluasi
Subjek atau pelaku evaluasi pendidikan ialah orang yang melakukan pekerjaan evaluasi dalam bidang pendidikan. Pelaku evaluasi dalam penelitian tindakan kelas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tim peneliti dan tim pemantau yang ditunjuk. Untuk penelitian tindakan kelas itu sendiri, tim peneliti merupakan tim yang paling berkompeten dalam pelaksanaan evaluasi, karena mereka orang yang paling bertanggungjawab  dan mengetahui secara pasti rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan. Tim evaluasi penelitian tindakan kelas itu sendiri, termasuk guru itu sendiri, peneliti sebagai mitra kolaborasi, kepala sekolah dan pemilik sekolah. Untuk penelitian yang didanai oleh lembaga lain atau sponsor, biasanya tim evaluasi adalah tim pemantau yang mendapat wewenang untuk melakukan monitoring dan evaluasi. 
Evaluasi hasil pada penelitian tindakan kelas pada dasarnya bersifat partisipatoris, artinya harus melibatkan pelaku tindakan. Guru diusahakan berperan serta aktif sejak tahap persiapan, penyiapan alat, atau format pengumpulan data, kegiatan pengumpulan data, dan bahkan dalam mengelola dan menggali makna atas semua informasi hasil tindakan.
3.      Perencanaan evaluasi
Evaluasi dalam penelitian tindakan harus disiapkan dengan baik. Evaluasi yang baik tidak harus diartikan sebagai evaluasi yang sulit dan rumit. Guru diharapkan mampu melakukan evaluasi tindakan sambil tetap menunaikan tugas pokoknya sebagai praktisi pendidikan. Perencaan evaluasi secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.       Perumusan tujuan evaluasi dan rencana pelaksanaan tindakan. Memahami tujuan evaluasi adalah salah satu wawasan paling penting yang harus dimiliki seorang evaluator. Apapun bentuk dan pendekatan evaluasi, penentuan tujuan evaluasi akan selalu berkenaan dengan apa yang diharapkan dari pelaksanaan suatu evaluasi, yaitu output (misalnya; produk pembelajaran, dokumentasi siswa/guru, dsb.) dan outcome (misalnya; efektivitas/efisiensi pembelajaran siswa, perubahan sikap siswa, perubahan kinerja dan sikap guru, perubahan kelembagaan, posisi di dunia pendidikan dan dunia kerja, dsb.). Penetapan calon pengguna atau pemakai hasil evaluasi dan kepentingan penggunaan hasil evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh data tentang ada tidaknya perbaikan atau peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran setelah dilaksanakan tindakan.kepentingan evaluasi bisa berupa kepentingan administrative, pembinaan professional guru, pertanggungjawaban pada penyandang dana (jika ada yang mendanai)orang tua siswa ata komite sekolah. Evaluasi dalam penelitian tindakan kelas berorientasi pada kebutuhan untuk membuat keputusan tentang kenerhasilan tindakan yang telah dilakukan.
b.      Penjabaran pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari evaluasi (menyususun kisi-kisi soal). Penyusunan kisi-kisi dimaksudkan agar materi tes yang akan diujikan betul-betul representative terhadap materi pelajaran yang sudah diberikan kepada peserta didik. Jika materi tidak relevan maka akan berakibat tes hasil kurang baik. Kisi-kisi adalah  suatu format yang berisi komponen identitas dan komponen matriks untuk memetakan soal dari berbagai topic/ satuan bahasan yang sesuai dengan kompetensi dasarnya masing-masing. Untuk menyusun kisi-kisi ini sebelumnya guru harus mempelajari silabus mata pelajaran  karena tidak mungin kisi-kisi dibuat tanpa adanya silabus. Guru harus memperhatikan domain dan  jenjang kemampuan yang akan diukur, kemudian guru membuat soal yang sesuai dengan kisi-kisi, menyusun lembar jawaban siswa, membuat kunci jawaban, dan membuat pedoman pengolahan skor. Selanjutnya melaksanakan uji coba.
Kisi-kisi penting dalam perencanaan penilain hasil belajar karena didalamnya terdapat sejumlah idikato yang sebagai acuan dalam mengembangkan instrument (soal) dengan persyaratan :
1)      Representative, yaitu harus betul-betul mewakili isi kurikulum sebgai sampel perilaku yang akan dinilai
2)      Komponen-komponennya harus terurai/terperinci, jelas dan mudah dipahami.
3)      Soalnya dapat dibuat sesuai dengan indicator dan bentuk soal yang diterapkan.
Dalam menyususn kisi-kisi harus mempertimbangkan domain hasil belajar yang akan diukur dengan sistematika.
c.       Penetapan jenis data yang diperlukan evaluasi dan sumber data yang tepat. Pada tahap ini evaluator mengidentifikasi data/informasi sesuai dengan kebutuhan dan variabel yang akan dievaluasi. Jenis data secara umum adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Di sini evaluator memilih dan/atau mengembangkan metode pengumpulan data (instrumen), mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang tepat (dari siapa, oleh siapa) dan cara mengumpulkannya, organisasi hasil informasi evaluasi, serta analisis dan interpretasi hasil informasi evaluasi.
 Setelah itu kita menentukan sampel. Sampel digunakan bila kita akan mengevaluasi sebagian dari populasi yang menjadi subjek atau objek evaluasi, dengan memperhatikan sifatnya yang homogenitas dan heterogenitas. Evaluator juga menentukan teknik pengambilan sampel (sampling) yang cocok diambil. Sebagai contoh, kita bisa menentukan desain sampling yang akan diambil dari sejumlah populasi dengan menggunakan teknik-teknik seperti random sampling, stratified sampling, proportional sampling, dengan memperhatikan pendekatan seperti judgment sampling (ditarik berdasarkan pertimbangan para ahli) dan probability sampling (ditarik berdasarkan probabilitas) serta haphazard sampling (berdasarkan aksesibilitas sampel yang dapat diambil).  Setelah menentukan sampel, kita akan menentukan model evaluasi. Model evaluasi sangat berkaitan dengan berbagai pendekatan evaluasi. Berikut ini adalah pendekatan-pendekatan utama dalam evaluasi:
1)      Pendekatan yang berorientasi pada tujuan, yang fokusnya adalah menentukan tujuan dan sasaran dan pencapainnya.
2)      Pendekatan yang berorientasi pada manajemen, yang fokus utamanya adalah pada identifikasi dan pemenuhan kebutuhan informasi bagi para pembuat keputusan manajerial.
3)      Pendekatan yang berorientasi pada klien, yaitu yang masalah utamanya adalah mengembangkan informasi evaluasi dalam ―produk-produk‖ pendidikan, untuk digunakan oleh pengguna pendidikan dalam memilih kurikulum (misalnya kurikulum berbasis kompetensi), produk-produk pembelajaran, dan sebagainya. Pendekatan yang berorientasi pada para ahli, yang sangat bergantung pada penerapan langsung dari para profesional dalam menilai kualitas pendidikan. Pendekatan yang berorientasi pada lawan atau pesaing, yaitu sebagai kontra atau penyeimbang dari pendekatan yang berorientasi pada para ahli pada umumnya (pro dan kontra).
4)      Pendekatan naturalistik yang berorientasi pada partisipan, yaitu bahwa keterlibatan partisipan merupakan penentu utama dalam nilai-nilai, kriteria, kebutuhan, dan sifat data untuk evaluasi.
5)      Peracangan kegiatan pengumpulan data. Untuk mencegah temuan yang menyesatkan mengenai ukuran keberhasilan, perlu dirancang penentuan saat yang tepat (timing) pengumpulan data evaluasi, penentuan, dan perancangan penggunaan data pembanding. Data pembanding dapat berupa kondisi sebelum dikenakan tindakan.
6)      Penyiapan alat pengumpulan data yang tepat. Alat evaluasi yang umumnya dipakai oleh evaluator antara lain adalah tes, pengukuran sikap, survey dan kuesioner survey, wawancara, pengamatan, sampling, eksperimental dan sebagainya. Penentuan alat evaluasi hendaknya sesuai dengan tujuan dan pertanyaan evaluasi yang dikemukakan sebelumnya. Sebagai contoh, jika akan mengevaluasi kemajuan prestasi siswa dalam beberapa mata pelajaran, hendaknya Anda menggunakan tes tertulis sebagai alat evaluasi. Contoh lain jika akan mengevaluasi minat dan bakat siswa, Anda bisa menggunakan tes lisan, wawancara, atau pengukuran sikap.
7)      Perancangan pengolahan dan analisis data, cara penarikan kesimpulan, dan konsekuensinya bagi perumusan arah tindakan selanjutnya. Setelah semua data kita kumpulkan, baik data itu dari kita langsung yang mengadakan kegiatan evaluasi maupun dari orang lain yang mengevaluasi orang yang kita maksud, data tersebut harus diolah. Mengolah data berarti ingin memberikan nilai dan makna kepada testi mengenai kulaitas hasil pekerjaannya. Misalnya, jika seorang murid mendapat nilai 65, kita belum dapat memberikan keputusan tentang murid itu, apakah yang termasuk cerdas atau kurang apalagi memberikan keputusan   mengenai aspek keseluruhan kepribadian murid. Dalam pengolahan data biasanya sering digunakan analisis statistic, terutama jika bertemu dengan data kuantitaif  yaitu data-data yang berbentuk angka-angka. Mengolah data berarti ingin memberikan  nilai dan makna mengenai kualitas hasil pekerjaan murid-murid.
Jika data hasil evaluasi sudah diolah, langkah selanjutnya adalah menafsirkan data itu, sehingga memberikan makna. Memberikan penafsiran maksudnya adalah untuk membuat pernyataan mengenai hasil pengeolahan data. Penafsiran terhadap suatu hasil evaluasi didasrkan atas kriteria tertentu yang diseut norma. Norma dapat ditetapkan terlebih dahulu secara rasional dan sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan, tetapi dapat pula dibuat berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh dalam melaksanakan evaluasi. Sebaliknya, bila penafsiran data itu tidak berdasarkan kriteria atau norma tertentu hanya berdasrkan pertimbangan pribadi dan kemanusiaan, maka termasuk kesalahan yang besar. Putusan ini tidak objektif dan merugikan semua pihak.
Ada dua jenis penfasiran data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individu. Penafsiaran kelompok adalah penafsiran yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik kelompok berdasarkan data hasil evaluasi, antara lain prestasi kelompok, rata-rata kelompok, sikap kelompok terhadap guru an materi pelajaran yang diberikan dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamnya adalah sebgai persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok dan untuk mengadakan perbandingan antar kelompok. Sedangkan penafsiran individu adalah penafsiran yang hanya tertuju kepada individu saja. Misalnya, dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan atau situasi klinis lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk melihat kesiapan anak dalam pertumbuhan dan kemajuan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.


4.      Pemanfaatan hasil evaluasi
Setelah data terkumpul, dianalisis, dan dimaknai, peneliti harus dapat menyimpulkan tingkat keberhasilan dari tindakan yang telah dilakukan. Bagian yang berhasil dan tidak berhasil harus dapat diidentifikasi, serta dicari penjelasannya. Berdasarkan kesimpulan evaluasi tersebut, dirumuskan permasalahan yang masih harus dicari pemecahannya dan dirumuskan rencana tindakan berikutnya yang paling strategis.  Tindakan strategis adalah tindakan yang mampu menimbulkan efek yang luas dari sistem pembelajaran. Hal-hal yang masih merupakan kelemahan perlu ditindaklanjuti dalam rencana tindakan berikutnya. Hasil evaluasi akan menjadi bahan untuk melakukan refleksi.



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Evaluasi adalah alat untuk mengukur sejauh mana keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam Evaluasi PTK, kita dapat gunakan untuk menilai keberhasilan atau dapat mengetahui sejauh mana hasilnya terhadap hal-hal yang telah direncanakan atau dilakukan dalam PTK .
Fungsi evaluasi tindakan adalah menentukan tingkat keberhasilan tindakan sesuai dengan yang diharapkan.
Sasaran evaluasi adalah untuk menemukan bukti-bukti nyata adanya peningkatan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Kriteria evaluasi sebagai acuan untuk mempertimbangkan dan memberikan makna terhadap apa saja yang dicapai setelah pelaksanaan tindakan. Kriteria bersifat normative atau relative. Secara garis besar ada dua kelompok teknik evaluasi dapat digunakan oleh seorang guru dalam usahanya mencari informasi yang diperlukan. Kedua kelompok tersebut yaitu tes dan non tes.
Pelaku evaluasi dalam PTK guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, peneliti dari perguruan tinggi sebagai kolaborasi. Adapun perencanaan evaluasi adalah sebagai berikut : merumuskan tujuan, merumuskan pertanyaan, penetapan jenis data dan sumber data, perancangan kegiatan pengumpulan data, penyiapan alat pengumpul data, perencanaan pengolahan dan analisis data, pemberian makna hasil analisis data, serta cara penarikan kesimpulan.








Daftar Pustaka

Sudaryono.2012.Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran.Yogyakarta:Garaha Ilmu
Ghony. Djunaidi.2008.Penelitian Tindakan Kelas.Malang:UIN-Malang Press
Mahmud.2011.Metodelogi Penelitian Pendidikan.Bandung:Pustaka Setia
Http://File.Upi.Edu/Direktori/FIP/JUR._ADMINISTRASI_PENDIDIKAN/197108082001121DIDING_NURDIN/Bab_8_PERENCANAAN_EVALUASI.Pdf Diakses Pada Tanggal 18 September Pukul 11.08 Wita.



Label: